Skip to main content

Surat untuk Stiletto Book

Dear Stiletto,

Nah tuh benerkan?? Aku salah mengeja namamu lagi, ku ulang beberapa kali baru bener nih :). Tapi jujur yaa...justru namamu yang unik itulah yang akhirnya membuatku tertarik untuk meng-klik saat salah satu teman bloggerku mention namamu dalam tweet-nya. Itupun sejujurnya bukan yang pertama kali aku melihat namamu. Sejak bergabung di kumpulan emak-emak yang suka ngeblog (tiga bulan lalu), beberapa kali aku melihat namamu disebut-sebut dan diperbincangkan. Beberapa dari emak-emak hebat itu ternyata sudah menjadi penulismu. Aiiih, aku yang bermimpi punya buku yang ku tulis sendiri makin penasaran denganmu. 

Naah akhirnya aku mem-follow twittermu dan meng-like page-mu, berkunjunglah aku ke rumah mayamu. Ooh ternyata kamu adalah penerbit buku yang mendedikasikan diri menerbitkan buku-buku fiksi maupun nonfiksi yang berkaitan dengan dunia perempuan.” Kok… aku jadi makin seneng sich, kayaknya kok pas gitu yaa hihi *GEER. Makin semangatlah untuk mengenalmu lebih jauh dan aku tak malu mengakui kemudian aku berani bermimpi kita akan punya hubungan lebih erat di masa depan hihihi … Tunggu kiriman naskahku yaa …*semangat45. Kamu tidak keberatan kan menerima naskah dari penulis pemula macam aku??? *ngerayu. Oh iya kalau sudah akrab, aku bisa memanggilmu dengan Stilo saja kan?

Meskipun aku bukan tipe perempuan yang suka mengenakan stiletto, namun setidaknya aku juga termasuk perempuan yang akan merasa lebih seksi dengan kecerdasannya, lebih percaya diri dengan kemampuannya, dan tampil lebih cantik dengan pengetahuannya. Hmm iya pas sama filosofimu. Tampaknya salah satu yang khas darimu adalah cover buku-bukumu yang girly, seksi, manis, menggoda dan cerdas menggambarkan "stiletto", namamu.



Beberapa hari lalu, aku mengkuti Giveaway dari rekan blogger untuk review atas salah satu bukumu. "Don’t Worry to be a Mommy …" meskipun sudah sering diperbincangkan soal "Ibu Rumah Tangga VS Ibu Berkarir", aku tetep antusias ikut meramaikan sekaligus curhat kegalauanku hahaha… Aku suka banget sama kutipan reviewer dari buku tersebut dan totally agree dengan sang penulis:

Motherhood is really a heart work.

Whatever you do with your children, from the bottom of your heart, you always want the best for your children –beyond that what you have enjoyed or experienced in your own lives. Being a mother is learning about strengths you didn’t know you had and dealing with fears you didn’t know existed. I can say proudly that my greatest blessing is being a mother. (hlm. 74)

Remember, no one can tell you that you’re not a good mother. No one. Motherhood is a heart work and work with heart never fails. (hlm. 65)

For all mothers in the world, please stop arguing about full timemother or working mother. We are all mother. Period. It’s all that matters.(hlm. 84) 


Okeeh kalau tidak menang Giveaway-nya, boleh juga aku dapet bukunya langsung dari kamu kan hahaha *tetep usaha. Jujur semua bukumu membuat aku penasaran, terutama novel-novelnya. Tapi, kalau diminta memilih tiga, maka yang dua lagi adalah ...*eng-ing-eng

 "The Marriage Roller Coaster". Kenapa? Karena lagi-lagi pas banget, aku dan suami sering menggunakan perumpamaan ini dalam perjalanan pernikahan kami. Akupun jadi penasaran bagaimana keseruan dan ketegangan kehidupan pernikahan Audi dan Rafa. Bagaimana mereka bisa berkompromi dengan kehidupan pekerjaan dan pastinya yang paling penasaran, bagaimana akhir ceritanya? mereka bertahan atau kapok???



Naah last but not least, agak bingung juga nih memilih antara “”Winter to Summer” yang tema ceritanya mirip dengan yang aku punya di file naskahku yang tak kunjung ku selesaikan *curcol. Iya aku sedang mencoba menyelesaikan sebuah cerita berdasarkan kisahku mengikuti suatu shortcourse di Stockholm yang sejujurnya memberi kesan mendalam bagiku dan ingin kubagi dengan banyak orang. Tapi, aku juga penasaran sama sosok Athaya di “Geek in High Heels”. Hmm sinopsisnya di websitemu menggelitik dan membuat penasaran. Terlebih perbincangan di beberapa media yang mereview novel ini. Hmm jadi kalau kamu memilihku, buku yang ketiga boleh deh yang “Geek in High Heels” ini. 


Okeh Stilletto, tetap manis dan menggoda yaaa, pun selalu cerdas. Be Stiletto, Be Yourself.

With Love

Ophi 

(Khopiatuziadah ~ ophi.ziadah@gmail.com ~ @ophiziadah)


Comments

  1. aseeek...moga menang yaaa...
    aku mau ikutan ini tapi masih banyak utang tulisan...kayanya udah keburu DL deh....:))

    ReplyDelete
  2. amiin, maksih maak. hahaha kebayang banyaknya"ütang tulisan" penulis sesibuk emak hahaha.
    makasih dah mampir maak

    ReplyDelete

Post a Comment

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini. Comment yang masuk saya moderasi terlebih dahulu ya. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular posts from this blog

Melangitkan Sebuah Rindu Tuk Jadi Tamu di RumahMu

Duh semoga judulnya gak berasa lebay yaa. Tapi mengunjungi Baitullah merupakan satu rindu yang tidak hanya jadi mimpi di kala tidur buat saya. Mendengar orang bercerita tentangnya sering membuat hati saya bergemuruh. Melihatnya di televisi, di timeline medsos, di broadcast wa, atau bahkan jika tanpa sengaja melihatnya sekalipun sering membuat mata saya berkaca, tak jarang lalu ada yang mengalir di sudutnya. Pun ada yang menyentak-nyentak di balik dada. Saya merasakannya sebagai sebuah rindu.

Waspada Bahaya Racun Tomcat! Kenali dan Atasi Dengan Tepat!

Tomcat, keren sebutannya namun sayangnya efek dari racun yang berasal dari cairan tubuhnya baik melalui gigitan atau keluar dari tubuhnya karena dipencet atau terpencet ternyata sangat berbahaya bagi kulit. Sebuah sumber menyebutnya racun cairan Tomcat lima kali lebih kuat dari pada bisa Kobra. Bukan efek mematikan karena masuk dalam peredaran darah tetapi efeknya jika terkena kulit. Memang racun tomcat hanya menyerang kulit. Racun tersebut tidak mematikan walaupun sangat menyakitkan karena zat yang terkandung dalam cairan tomcat  yaitu paederin apabila terkena kulit kita akan menimbulkan gatal atau efek terbakar. 

FOCA Sachima: Cemilan Praktis untuk Keluarga di Segala Suasana

Morning Hectic Kehebohan rutin setiap pagi, -kecuali weekend -, rasanya hampir serupa untuk working mom tanpa asisten yang stay di rumah kayak aku. Apalagi kalau bukan seputar menyiapkan bekal untuk sarapan dan makan siang anak-anak,  plus bekal untuk aku dan suami karena kami juga berangkat kerja. Sesekali aku memang membawa bekal untuk makan siang di kantor.  Yang paling wajib adalah menyiapkan bekal untuk sarapan dan makan siang Ka Alin dan Ka Zaha. Sejak SMP, Dek Paksi menyempatkan sarapan di rumah lalu dibekali makanan ringan saja. Jadilah pagi hari harus jadi waktu yang efektif dan efisien untuk menyelesaikan tugas negara tersebut. Jujur lumayan PR memikirkan bekal dan menu apa yang harus disiapkan setiap paginya.  Bukan apa-apa karena bekal untuk Ka Alin dan Ka Zaha tuh wajib lengkap sih isinya. Secara mereka berdua berangkat pagi dan tidak sempat sarapan pagi di rumah, artinya sarapannya juga disiapkan di paket bekal yang mereka bawa. Mereka juga pulang petang, ...